Kerumunan mulai bubar, meskipun beberapa orang masih terlihat tidak senang. Roni berjalan menjauh dengan dengusan kesal, sementara Narendra menghela napas panjang.

Lynx mendekati Narendra. "Terima kasih telah membelaku."

Narendra tersenyum kecil. "Aku hanya melakukan apa yang benar. Tapi ingat, kau punya banyak mata yang mengawasimu sekarang."

Lynx mengangguk. "Aku tahu. Tapi aku tidak akan pergi ke mana pun. Kita akan menghadapi ini bersama."

Widhi lalu meletakkan tangannya di bahu Lynx. "Aku berharap kau benar, Lynx. Jika Monrest datang, kita akan membutuhkan semua keberanian dan kekuatan yang bisa kita kumpulkan."

Lynx menatap ke arah hutan, di mana kegelapan menyembunyikan ancaman yang semakin dekat. Ia tahu bahwa ini bukan hanya ujian bagi Uksa, tapi juga bagi dirinya sendiri.

Ketika sinar matahari mulai bersinar semakin terik, ketegangan di desa Uksa mencapai puncaknya. Penduduk yang bersiap untuk bertarung bersiap-siap dengan bersenjata tombak dan panah sederhana. Suara pagi itu yang biasanya menenangkan kini terasa menakutkan, seolah menunggu sesuatu yang buruk datang.

Lynx berdiri di sisi Narendra dan Widhi di pintu gerbang desa. Ia memandangi jalur yang mengarah ke desa, matanya tajam mengamati setiap gerakan. Narendra memegang tombaknya erat-erat, sementara Widhi tampak tenang, meskipun matanya mencerminkan kecemasan.

"Kau yakin mereka akan datang pagi ini?" tanya Narendra, suaranya pelan.

Lynx mengangguk. "Jika Monrest mengirim makhluk mutasi mereka ke sini, mereka pasti sudah tahu posisi desa ini. Dan mereka tidak akan menunggu lama."

Widhi menarik napas panjang. "Kita harus memperlambat mereka. Apa jebakan yang kita pasang cukup untuk membuat mereka ragu?"

"Itu akan memperlambat," jawab Lynx. "Tapi itu tidak akan menghentikan mereka. Mereka lebih pintar daripada makhluk mutasi. Kita harus siap bertarung jika perlu."

Tiba-tiba, suara langkah berat terdengar dari arah hutan. Pasukan besar mulai muncul di bawah sinar matahari. Narendra mengerutkan dahi, mencoba melihat lebih jelas.

"Itu mereka," bisiknya, suaranya penuh ketegangan.

Pasukan itu semakin mendekat, dan akhirnya terlihat dengan jelas—sekelompok prajurit Monrest dengan tubuh besar dan pakaian yang tampak seperti armor kasar dari kulit dan tulang. Senjata mereka bervariasi, dari tombak hingga kapak besar dari batu. Mereka bergerak dengan disiplin, mata mereka menyala dengan niat membunuh.

"Lihat itu," gumam Narendra. "Mereka lebih banyak dari yang aku kira."

Lynx memandang sekelompok prajurit itu, memperkirakan jumlah mereka. "Seratus, mungkin lebih. Tapi mereka bergerak dengan hati-hati. Mereka tahu kita sudah bersiap."

Widhi mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada para penjaga di atas pagar untuk bersiap. Beberapa pria Uksa menarik tali busur mereka, sementara yang lain menunggu instruksi lebih lanjut.

Ketika prajurit Monrest mencapai jebakan pertama—lubang yang ditutupi ranting dan daun—jeritan keras terdengar. Salah satu dari mereka jatuh ke dalam lubang, tubuhnya tertusuk kayu runcing.

"Bagus," bisik Narendra. "Jebakan bekerja."

Namun, Koren, pemimpin kelompok Monrest, hanya tertawa. Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada anak buahnya untuk melanjutkan.

"Mereka tidak takut," kata Widhi, nadanya serius.

Lynx memperhatikan pemimpin itu dengan seksama. "Mereka datang untuk menunjukkan kekuatan. Ini bukan serangan biasa."

Monrest terus maju, melewati jebakan-jebakan lainnya. Beberapa dari mereka terluka oleh panah yang ditembakkan dari menara, tetapi mereka tidak menunjukkan tanda-tanda mundur. Ketika mereka mendekati pintu gerbang desa, pemimpin mereka berteriak keras.

"Kami tahu kalian di sini!" suaranya menggelegar, menggema di malam yang sunyi. "Serahkan orang asing itu, dan kami mungkin akan membiarkan kalian hidup!"

Penduduk Uksa yang mendengar itu mulai berbisik-bisik, ketakutan menyelimuti mereka. Beberapa dari mereka menoleh ke arah Lynx dengan tatapan ragu.

"Kau lihat?" Roni, yang berdiri di antara kerumunan, berteriak. "Aku bilang ini karena dia! Kalau kita menyerahkan dia, mereka akan pergi!"

Narendra melangkah maju, menatap Roni dengan tajam. "Diam, Roni! Kau hanya memperburuk keadaan!"

"Tapi dia benar," salah satu pria lain berseru. "Monrest tidak akan menyerah sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Apa kau mau kita semua mati karena orang asing ini?"

Kerumunan mulai bergemuruh, dan beberapa orang terlihat mulai mendekati Lynx. Tapi sebelum ada yang bisa mendekat lebih jauh, Narendra mengangkat tombaknya, berdiri di depan Lynx.

"Siapa pun yang menyentuh Lynx harus melewatiku dulu," katanya dengan nada tegas. "Dia menyelamatkan kita. Dan sekarang dia di sini untuk membantu."

Widhi maju, tangannya terangkat untuk menenangkan kerumunan. "Cukup!" suaranya menggema. "Kita tidak akan menyerahkan siapa pun kepada Monrest. Lynx adalah sekutu kita, dan dia akan tetap bersama kita."

Lynx melangkah maju, suaranya tenang tapi tegas. "Aku tidak meminta kalian melindungiku. Tapi aku tidak akan meninggalkan kalian untuk menghadapi mereka sendirian. Jika kita bekerja bersama, kita punya kesempatan untuk melawan mereka."

Widhi menatap Lynx, lalu mengangguk. "Apa rencanamu?"

Lynx menoleh ke Narendra. "Aku butuh kau dan beberapa orang lainnya untuk memimpin serangan dari belakang mereka. Gunakan jebakan terakhir yang kita pasang untuk mengepung mereka."

Narendra mengangguk. "Kami bisa melakukannya."

Lynx kemudian berbalik ke arah Widhi. "Kau dan sisanya tetap di sini untuk berjaga. Lindungi kami jika mereka berhasil menerobos."

Widhi mengangguk, meskipun wajahnya menunjukkan kecemasan. "Hati-hati, Lynx."

Lynx menarik napas panjang, langkahnya mantap saat ia melangkah keluar dari gerbang desa Uksa. Tubuhnya yang tegap berkilau dalam sinar matahari pagi, parangnya yang mengkilap tergantung longgar di tangan kanannya. Di hadapannya, pasukan Monrest berdiri seperti dinding baja, dengan Koren, pemimpin mereka, berdiri di tengah.

“Hei!” seru Lynx, suaranya lantang dan menggema.

Koren, pria besar dengan wajah penuh bekas luka, mengangkat tangannya, menghentikan barisan prajuritnya. Ia menyipitkan mata, menatap Lynx seperti seekor serigala yang mengintai mangsanya. “Siapa kau?” tanyanya, suaranya rendah dan penuh ancaman.

"Bukankah kamu mencari orang asing yang menyebabkan peliharaan kalian terbunuh? Akulah orangnya," jawab Lynx dengan tenang, suaranya tak bergetar sedikit pun.

Pernyataan Lynx membuat prajurit Monrest berbisik-bisik. Sebagian dari mereka melirik Lynx dengan tatapan tidak percaya.

Koren mendengus, bibirnya melengkung menjadi seringai penuh kebencian. “Kamu? Dengan tubuh sekecil itu? Kau masih sangat muda. Sangat disayangkan, kau cukup bodoh untuk menyerahkan diri.”

Lynx tersenyum tipis. “Bukan bodoh, tapi aku tahu kalian tidak akan berhenti mengejar desa ini. Jadi aku di sini. Lepaskan suku Uksa, dan aku akan ikut dengan kalian tanpa perlawanan.” Lynx sengaja memancing Koren dengan menyerahkan diri untuk memberi kesempatan Narendra mengelilingi mereka, selain itu Lynx juga ingin memanfaatkan momentum ini untuk menunjukkan kemampuannya agar dapat mengambil kepercayaan dalam mempersatukan suku-suku lainnya.

Koren tertawa terbahak-bahak, suaranya memantul di antara pepohonan. “Hah! Kau pikir nyawamu cukup untuk menyelamatkan mereka? Tidak, anak muda. Kami tidak hanya menginginkanmu. Kami akan membakar desa ini sampai rata dengan tanah.”

“Kalian bermimpi,” kata Lynx, mengangkat parangnya hingga sinarnya memantul tajam.

Koren menyeringai lebih lebar, melangkah maju sambil mengangkat kapak besarnya. “Menyerahlah, bocah. Aku akan memberimu kematian cepat jika kau tidak menyusahkan.”

"Kalau begitu, coba saja," balas Lynx, posisinya tetap tenang meskipun Koren mulai mendekat.

Koren menyerbu dengan suara menggelegar, kapaknya berayun dari atas ke bawah dengan kekuatan yang bisa memecahkan batu. Namun, pada detik terakhir, Lynx bergerak ke samping dengan kecepatan luar biasa, membuat ayunan itu hanya memukul tanah.

“Lambat sekali,” ejek Lynx sambil memutar parangnya dengan santai.

Koren menggeram marah. Ia segera menyerang lagi, mengayunkan kapaknya dengan gerakan horizontal, tapi Lynx melompat ke atas, tubuhnya melayang seolah tanpa bobot, dan mendarat ringan di belakang Koren.

“Apakah semua prajurit Monrest sepertimu? Hanya tahu berteriak dan memukul angin?” Lynx tersenyum dingin, membuat darah Koren mendidih.

Koren berbalik dengan gerakan kasar, mencoba menyerang lagi, tapi Lynx kembali menghilang dari jangkauan. Kali ini, Lynx muncul di belakangnya dan menendang punggung Koren, membuat pria besar itu terhuyung ke depan hampir terjatuh.

Para prajurit Monrest mulai berseru cemas, sementara dari kejauhan, penduduk Uksa yang mengamati pertempuran itu tampak kagum dan bingung.

“Dia mempermainkannya,” bisik salah satu pria Uksa, matanya melebar.

Narendra, yang memimpin kelompok lain dari sisi desa, menyaksikan dengan rahang terkatup. “Dia lebih dari yang kita kira,” gumamnya.

Koren, yang wajahnya kini memerah karena amarah, mengayunkan kapaknya dengan liar, mencoba menyerang Lynx dari berbagai sudut. Tapi Lynx terus menghindar dengan gerakan yang hampir mustahil untuk diikuti mata telanjang.

“Diam dan lawan aku dengan serius!” teriak Koren, nafasnya mulai terengah-engah.

Lynx tertawa kecil. “Aku sudah serius. Kau saja yang terlalu lambat.”

Dalam satu gerakan cepat, Lynx melompat ke depan, menendang kapak Koren dari tangannya. Senjata itu terlempar jauh, menancap di tanah. Koren terhuyung mundur, matanya melebar karena terkejut.

Lynx berdiri di depan Koren, parangnya berkilauan di tangan. “Sudah cukup?” tanyanya dingin.

Koren mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada pasukannya. “Serang dia! Bunuh dia sekarang!”

Pasukan Monrest bergerak serentak ke arah Lynx. Namun, seperti sebelumnya, Lynx bergerak dengan kecepatan luar biasa, menghindari setiap serangan dengan mudah. Ia memukul senjata mereka dengan parangnya, membuat beberapa prajurit kehilangan keseimbangan.

“Hati-hati! Dia terlalu cepat!” seru salah satu prajurit, panik.

Di sisi lain, Narendra memimpin penduduk Uksa untuk menyerang dari arah samping, memanfaatkan kebingungan musuh. Mereka menggunakan jebakan-jebakan sederhana untuk menjepit pasukan Monrest.

Narendra memperhatikan Lynx yang masih bertarung di tengah medan. “Lynx! Di kananmu!” serunya ketika melihat seorang prajurit mencoba menyerang dari belakang.

Lynx berbalik dengan cepat, menangkis serangan itu dengan parangnya, lalu menendang prajurit itu hingga terlempar ke belakang.

Koren, yang melihat situasi mulai tidak menguntungkan, menyipitkan mata dan mengamati Lynx dengan seksama. Saat Narendra memanggil nama Lynx lagi, Koren tampak membeku.

“Lynx?” gumamnya pelan, sebelum wajahnya berubah drastis. Ia mundur beberapa langkah, matanya melebar karena ketakutan.

Koren mengangkat tangannya tinggi-tinggi, berteriak kepada anak buahnya. “Mundur! Hentikan pertempuran! Kita tidak bisa melawannya!”

Beberapa prajurit yang masih bertarung langsung terkejut. "Mundur? Tapi kenapa?" tanya salah satu dari mereka.

"Bodoh! Dia adalah Lynx! Segera mundur sekarang juga! " teriak Koren dengan ekspresi ketakutan di wajahnya.


